Senin, 19 Juli 2010

Kajian Tentang Yakin

aqin merupakan bagian dari iman, tak ubahnya kedudukan ruh dari badan. Dengan yaqin ini orang-orang yang memiliki ma'rifat menjadi tehormat, banyak orang yang berlomba karenanya, orang-orang yang beramal berusaha mendapatkannya dan semua isyarat mereka tertuju kepadanya. Jika sabar berpasangan dengan yaqin, maka akan lahir kepemimpinan dalam agama, sebagaimana firman-Nya,

"Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan,adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24).



Allah mengkhususkan orang-orang yang yaqin, bahwa hanya merekalah yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan bukti-bukti keterangan,sebagaimana firman-Nya,

"Dan, di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yaqin." (Adz-Dzariyat: 20).

Allah juga mengkhususkan orang-orang yang yakin, bahwa hanya merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan keberuntungan di antara para penduduk bumi,

"Dan, mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yang yaqin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 4-5).

Allah juga mengabarkan bahwa para penghuni neraka adalah mereka yang tidak yaqin,

"Dan, apabila dikatakan (kepada kalian), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya',niscaya kalian menjawab, 'Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu,kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyaqini(nya)'." (Al-Jatsiyah: 32).

Yaqin merupakan ruh amal hati, yang sekaligus merupakan run amal anggota tubuh dan merupakan hakikat sifat shidq serta inti Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi, beliau bersabda,

"Janganlah sekali-kali kamu membuat seseorang ridha dengan kemurkaan Allah, dan janganlah sekali-kali kamu memuji seseorang dengan mengatas namakan karunia Allah, dan janganlah sekali-kali kamu mencela seseorang selagi Allah tidak mengizinkanmu, karena sesungguhnya rezki Allah tidak dihela kepadamu karena hasrat seseorang yang berhasrat dan tidak ditolak darimu karena kebencian seseorang yang benci, dan sesungguhnya Allah, dengan keadilan dan neraca-Nya Dia menjadikan ruh dan kegembiraan ada dalam ridha dan yaqin, menjadikan kekhawatiran dan kesedihan ada dalam keragu-raguan dan kemarahan."

Yaqin merupakan pasangan tawakal. Karena itu ada yang menafsiri tawakal dengan kekuatan keyakinan. Yang benar, tawakal merupakan buah yaqin. Maka ada baiknya jika petunjuk disertai dengan yaqin. Selagi yaqin sampai ke dalam hati, maka ia akan memenuhinya dengan cahaya dan kemuliaan, membersihkannya dari keragu-raguan dan kemarahan, kekhawatiran dan kesedihan mengisinya dengan cinta kepada Allah, rasa takut, ridha, syukur, tawakal dan penyandaran kepada-Nya. Jadi yaqin merupakan materi semua kedudukan.

Ada perbedaan pendapat tentang kedudukan yaqin, apakah sebagai keadaan yang diusahakan ataukan merupakan pemberian?

Ada yang berpendapat, yaqin merupakan ilmu yang disusupkan ke dalam hati. Yang berarti bukan diperoleh karena usaha. Menurut Sahl,yaqin merupakan tambahan iman, sementara iman diperoleh dengan usaha.

Yang benar, yaqin diperoleh karena usaha jika ditilik dari sebabsebabnya,dan merupakan pemberian jika ditilik dari dzatnya.

Abu Bakar bin Thahir berkata, "Ilmu masih dimungkinkan untuk diragukan. Sedangkan di dalam yaqin tidak ada keraguan sama sekali."

Menurut Dzun-Nun, yaqin mengajak untuk tidak terlalu berharap. Tidak terlalu berharap mengajak kepada zuhud. Zuhud menghasilkan hikmah, dan hikmah mendorong untuk memandang akibat di kemudian hari. Masih menurut pendapatnya, ada tiga tanda yaqin: Tidak terlalu banyak bergaul dengan manusia, tidak memuji mereka jika mendapat pemberian, dan tidak mencela mereka jika tidak mendapat pemberian mereka. Ada tiga tanda lainnya, yaitu: Memandang kepada Allah dalam segala sesuatu, kembali kepada-Nya dalam segala sesuatu, dan memohon pertolongan kepada-Nya dalam keadaan bagaimana pun.

Menurut Al-Junaid, yaqin merupakan kemantapan ilmu yang tidak dapat diubah dan tidak pula diganti serta tidak berubah apa yang ada di dalam hati. Menurut Ibnu Atha', seberapa jauh kedekatan mereka dengan takwa, maka sejauh itu pula mereka bisa mengetahui yaqin. Dasar takwa adalah menyalahi apa yang dilarang atau menyalahi nafsu. Sejauh mana mereka memisahkan diri dari nafsu, maka sejauh itu pula mereka akan mencapai yaqin.

Menurut Abu Bakar Al-Waraq, yaqin merupakan pengendali hati. Kesempurnaan iman terjadi karenanya. Allah bisa diketahui dengan yaqin,dan dengan akal ada pemikiran tentang Allah. Yaqin itu ada tiga macam: Yaqin pengabaran, yaqin pembuktian dan yaqin kesaksian. Yaqin pengabaran artinya ketenangan hatimu dan kepercayaannya terhadap kabar yang disampaikan pemberi kabar. Yaqin pembuktian setingkat di atas yaqin pengabaran, yaitu penerimaan pengabaran itu dengan diser-tai dalil dan bukti keterangan. Hal ini sebagaimana umumnya pengabaran tentang iman, tauhid dan Al-Qur'an yang dikuatkan Allah dengan berbagai dalil, perumpamaan dan bukti-bukti keterangan yang menunjukkan kebenaran pengabaran-Nya. Dengan begitu manusia bisa menerima yaqin dari dua sisi, dari sisi pengabaran dan sekaligus dari sisi dalil. Dari sini meningkat lagi ke tingkatan ketiga, yaitu yaqin pengungkapan. Dengan yaqin ini seakan-akan hati mereka bisa merasakan kehadiran pemberi kabar di hadapannya, sehingga pada saat itu kaitan iman kepada yang gaib dengan hati seperti obyek pandangan dengan mata. Ini merupakan ti ngkatan pengungkapan yang paling tinggi. Ini pula yang diisyarat-kan dalam perkataan Amir bin Qais, "Jika tabir disingkap, maka keyakin-an akan bertambah." Ini bukan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak pula merupakan perkataan Ali seperti anggapan sebagian orang.

Sebagian orang ada yang berkata, "Aku bisa melihat surga dan neraka secara hakiki."

Ada yang bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

Dia menjawab, "Aku melihatnya dengan kedua mata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku melihat dengan kedua mata beliau lebih baik daripada aku melihat dengan kedua mataku sendiri, karena pandanganku bisa salah semuanya, lain dengan pandangan beliau."

Yaqin membuatnya siap mengemban beban dan menghadapi bahaya serta mendorongnya untuk maju terus ke depan. Jika yaqin tidak disertai ilmu, maka ia membawanya kepada kerusakan, sedangkan ilmu menyuruhnya untuk mundur ke belakang, dan jika ilmu tidak disertai yaqin, maka pelakunya tidak mau bergerak dan tidak mau berusaha. An-Nahr Jury berkata, "Jika hakikat yaqin sudah sempurna pada diri hamba, maka cobaan bagi dirinya sama dengan nikmat dan kelapangan sama dengan musibah."

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Yaqin merupakan kendaraan orang yang meniti jalan ini dan merupakan puncak derajat orang awam. Ada yang berpendapat, yaqin merupakan langkah pertama orang yang khusus."

Yaqin membawa pejalan kepada Allah, seperti yang dikatakan Abu Sa'id Al-Kharaz, "Ilmu adalah yang mendorongmu untuk berbuat dan yaqin adalah yang membawa dirimu. Yaqin adalah kendaraan yang ditunggangi orang yang berjalan kepada Allah. Tanpa adanya yaqin, seorang pelancong tidak akan sampai kepada Allah."

Pengarang Manazilus-Sa'irin menjadikan yaqin ini sebagai akhir atau puncak derajat orang-orang awam, karena memang inilah akhir perjalanan mereka. Kemudian dia menceritakan perkataan seseorang, bahwa yaqin merupakan langkah pertama orang-orang yang khusus. Dengan kata lain,yaqin bukan merupakan tempat kedudukan mereka, tapi merupakan permulaan perjalanan mereka. Dari yaqin inilah mereka memulai perjalanan.

Sebab orang-orang khusus ini melakukan perjalanan ke inti pemaduan dan kefanaan dalam mempersaksikan hakikat, hasrat tidak pernah berhenti dan tidak terhambat oleh rupa. Tapi boleh saja bagimu menjadikan yaqin ini sebagai puncak perjalanan orang-orang awam dan awal perjalanan mereka. Ada tiga derajat yaqin:

1. Ilmul-yaqin. Artinya menerima apa pun yang tampak dari Allah dan menerima apa yang tidak tampak dari Allah serta berada pada apa yang ditegakkan Allah.

Pengarang Manazilus Sa'irin menyebutkan tiga perkara dalam derajat ini, yang semuanya merupakan kaitan yaqin dan rukun-rukunnya,yaitu:

- Menerima apa pun yang tampak dari Allah, yaitu berupa perintah,larangan, syariat, agama-Nya dan apa pun yang tampak dari-Nya,yang disampaikan para rasul. Kita harus menerimanya dengan patuh dan tunduk kepada Rububiyah dan masuk ke dalam ubudiyah.

- Menerima apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu iman kepada yang gaib, yang dikabarkan Allah lewat lisan para rasul-Nya, tentang perkara-perkara akhirat, surga, neraka, shirath, timbangan, hisab, tentang langit yang terbelah, planet-planet yang berhamburan, gunung-gunung yang dicabut dari tempatnya dan alam dibalik, tentang alam barzakh,nikmat dan siksanya. Sebelum semua ini harus ada iman dan pembenaran, yaitu yaqin. Artinya, di dalam hati tidak boleh ada keraguan, kesangsian dan kelalaian.

- Berada pada apa yang ditegakkan Allah, yaitu ilmu tauhid, yang asas-nya adalah penetapkan asma' dan sifat. Kebalikannya adalah peniadaan dan penafian. Tauhid ini merupakan kebalikan dari peniadaan. Tauhid yang berorientasi tujuan dan kehendak ialah memurnikan amal karena Allah dan menyembah-Nya semata. Kebalikannya adalah syirik. Sedangkan peniadaan tauhid lebih buruk daripada syirik. Sebab pelakunya mengingkari Dzat dan juga kesempurnaan-Nya, atau juga bisa disebut pengingkaran terhadap hakikat Uluhiyah. Dari segi dzat, dia menganggap Allah tidak bisa mendengar, melihat,berbicara, tidak meridhai, tidak murka, tidak bisa berbuat apa pun,tidak berada di dalam dan di luar alam, tidak berhubungan dan tidak berpisah dengan alam, tidak berada di atas 'Arsy dan tidak pula di bawahnya. Ada atau tidak ada-Nya dianggap sama. Sementara orang musyrik tetap mengakui keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya, tetapi dia menyembah selain-Nya di samping juga menyembah-Nya. Berarti orang musyrik lebih baik daripada orang yang meniadakan Dzat dan sifat Allah 9Yang benar, tidak ada yang baik pada dua golongan ini. Lebih tepat jika dikatakan,orang pertama lebih sedikit kerusakan dan keburukannya daripada orang kedua).

Tiga perkara ini merupakan ilmu manusia yang paling mulia, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan, ilmu tentang asma' dan sifat serta tauhid, ilmu tentang hari akhirat.

2. Ainul-yaqin. Artinya yang membutuhkan kesaksian dari suatu kesaksian,yang membutuhkan pandangan dengan mata telanjang dari suatu pengabaran dan kesaksian yang menyibak tabir ilmu. Perbedaan antara ilmul-yaqin dan ainul-yaqin seperti perbedaan antara pengabaran yang benar dan pandangan secara langsung. Sedangkan haqqul-yaqin di atas keduanya. Tiga tingkatan ini dapat diumpamakan dengan ucapan seseorang yang berkata kepadamu, bahwa dia mempunyai madu. Engkau tidak menyangsikan kebenaran pengabarannya itu. Ketika dia memperlihatkan madu itu kepadamu, maka yaqinmu semakin bertambah, kemudian engkau mencicipinya. Yang pertama disebut ilmul-yaqin, yang kedua disebut ainul-yaqin, dan yang ketiga disebut haqqul-yaqin. Pengetahuan kita tentang surga dan neraka disebut ilmul-yaqin. Jika surga diperlihatkan kepada orangorang yang bertakwa dan neraka diperlihatkan kepada orang-orang yang durhaka, sementara semua makhluk juga menyaksikannya, maka itulah yang disebut ainul-yaqin. Jika penghuni surga sudah berada di surga dan penghuni neraka berada di dalam neraka, maka saat itulah disebut haqqul-yaqin.

Orang yang berada dalam derajat ini mencari dalil untuk mendapatkan pengetahuan tentang suatu obyek yang dikuatkan dengan dalil itu, seperti penguatan pengabaran dengan pandangan secara langsung. Kesaksian atau pengetahuannya dapat menyingkap tabir ilmu, lalu membawanya kepada obyek yang harus diketahui, sehingga pandangan dan hatinya menjadi terkuak.

3. Haqqul-yaqin. Artinya mengobarkan cahaya penyingkapan, membebaskan diri dari beban yaqin dan melebur dalam haqqul-yaqin. Derajat ini tidak bisa diperoleh di dunia kecuali oleh para rasul. Nabi kita melihat surga dan neraka dengan mata kepala sendiri selagi beliau masih hidup di dunia. Musa mendengar kalam Allah tanpa perantara. Allah menampakkan Diri-Nya kepada gunung dan Musa melihat kejadian ini, hingga gunung itu hancur berkeping-keping. Memang pada tingkatan tertentu kita bisa mendapatkan haqqul-yaqin, yaitu dengan merasakan hakikat iman yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang berkaitan dengan hati dan amal-amalnya. Jika hati dapat merasakannya, maka ia berhak untuk berada pada haqqulyakin. Tetapi untuk perkara-perkara akhirat dan hari kiamat, melihat Allah dengan mata kepala sendiri serta mendengar kalam Allah secara langsung tanpa perantara, maka yang seharusnya dilakukan orang Mukmin di dunia ini hanya sebatas iman dan ilmul-yaqin. Sedangkan haqqul-yaqin ditangguhkan hingga tiba saatnya nanti. Tapi jika orang yang mengadakan perjalanan dapat mewujudkan kesaksian hakikat,berakhir kepada kefanaan dan sampai kepada keber-samaan, maka inilah yang disebut mengobarkan cahaya penyingkapan. Artinya mewujudkan cahaya yaqin yang dapat mengalahkan kegelapan tabir.

Membebaskan diri dari beban yaqin artinya bahwa yaqin mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi pemiliknya, beban dan kesulitannya diemban. Jika dia melebur dalam tauhid, maka dia akan mendapatkan perkara-perkara lain yang tinggi, sehingga akhirnya dia seperti orang yang dibawa setelah dia membawa, seperti terbang setelah berjalan kaki, sehingga hak-hak yang harus dipenuhi dan diembannya itu tidak lagi terasa. Yang menyisa pada dirinya hanya hembusan napas, seperti air yang dimiliki ikan. Ini semua kembali kepada dominasi rasa, yang tidak perlu buru-buru diingkari.

Perhatikanlah keadaan seorang shahabat (Amr bin Al-Hammam) sewaktu perang Uhud, yang mengambil beberapa buah korma yang dibawa-nya sebagai bekal. Karena dia haus dan lapar, maka dia duduk sambil memakan kormanya itu. Tapi karena dia melihat pasar mati syahid yang ramai, dia segera bangkit dari duduknya lalu melempar kormanya,seraya berkata, "Ini merupakan kehidupan yang terlalu lama, selagi aku masih hidup dan masih memakan korma-korma ini." Seketika itu pula dia bertempur hingga terbunuh sebagai syahid. Begitu pula keadaan para shahabat lainnya, yang tidak jauh berbeda dengan keadaan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar